Pernah denger tentang native advertising? Native advertising merupakan strategi baru dalam dunia digital marketing. Kalau selama ini kita hanya familier dengan istilah advertorial alias iklan editorial yang ditampilkan dalam media cetak maupun online, native advertising memiliki perbedaan signifikan dengan advertorial.

Sebelumnya kita pasti tahu, dunia digital yang didukung oleh lahirnya beragam sosial media menjadi ladang subur bagi industri pasar untuk menjual produk atau jasa mereka melalui iklan. Facebook, misalnya. Seringkali saat kita sedang asik meng-scroll timeline, muncul iklan-iklan berbayar dari suatu brand yang nawarin beragam barang atau jasa yang mereka jual.

 

Iklan jenis ini memang menjadi hype di awal mula internet berjaya…but only until late 2001. Agensi digital marketing dunia iProspect pernah melansir laporan yang menunjukkan bahwa Click Through Rates (CTR) iklan berbayar di dunia maya melonjak turun hingga mencapai 0 persen sejak tahun 2008. Gak hanya itu, kehadiran advertorial sebagai alternatif iklan online tradisional pun semakin menurun seiring dengan semakin pintarnya pengguna internet dalam memahami segala bentuk advertising. Nah, melihat user behavior yang semakin mengacuhkan iklan online inilah, muncul bentuk iklan baru yang disebut dengan native advertising.

 

 

Native advertising punya wajah yang sama dengan konten-konten yang sering kita temui dalam media cetak maupun online. Bedanya, konten native advertising menyembunyikan secuil misi efektif: menyampaikan suatu iklan berbayar dari suatu brand. Pendekatan soft-selling yang diterapkan dalam native advertising membuat seorang calon pembeli tidak bisa dengan mudah mengabaikan konten penjualan yang ternyata sedang disampaikan oleh suatu brand. Such a great trick, don’t you think? Penulisan native advertising berbeda dari advertorial, di mana pada tulisan advertorial penawaran barang atau jasa yang dijual suatu brand bisa terlihat jelas karena ditulis dengan menonjolkan keunggulannya saja. Biasanya, pembaca bisa dengan cepat menilik bahwa tulisan tersebut merupakan sebuah advertorial karena konten yang disampaikan mostly berisi promosi. Di sisi lain, native advertising ditulis dengan standar penulisan jurnalistik dengan membeberkan segala fakta dan informasi baik keunggulan maupun kekurangan suatu produk atau jasa. Format penulisannya pun seperti format penulisan jurnalistik; teks, narasi, video atau infografis.

Saat ini, popularitas native advertising semakin melonjak naik. Dilansir dari Forbes, online users mengakses native ads 53% lebih sering dibanding iklan tradisional sehingga menaikkan tingkat pembelian sebanyak 53% pula. Dengan adanya native advertising yang lebih efektif ini, brand awareness turut meningkat hingga 82%. With those good deals going on, why not hiring us to give you the best native ads your brand could ever wish for?

 

sumber:
https://www.forbes.com/sites/steveolenski/2015/11/12/6-types-of-native-advertising-and-how-each-can-benefit-your-business/#2eaede6f4455
http://www.digitalmarketer.com/what-is-native-advertising/